Blogroll

Minggu, 08 Mei 2011

PENDAKIAN BERSAMA GUNUNG BUNTU KARUA TANA TORAJA

Kekuatan berpikir sangat menentukan bagaimana kehidupan kita di masa yang akan datang, perjalanan hidup yang panjang dan penuh tantangan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tak layak kiranya, jika kita manusia sebagai mahkluk sempurna, yang di karunia akal pikiran, tidak mampu melawan kerasnya kehidupan. Mungkin pertanyaan yang muncul adalah bagaimana membentuk kekuatan berpikir yang kuat. Ini adalah masalah bagi sebagian orang, tapi salah satu hal yang perlu anda coba untuk membentuk kekuatan berpikir yaitu dengan melakukan pendakian gunung. Mengapa dengan mendaki gunug ?.

Karena seseorang yang melakukan pendakian gunung akan terbentuk di dalam dirinya sikap mental yang kuat, dan pertumbuhan fisik yang sehat, serta tumbuh dihatinya rasa cinta terhadap sesama, terhadap alam dan terhadap tuhan, tentunya anda tahu dari situlah pikiran positif terbentuk.
Pasti anda mengetahui seorang pelopor terbentuknya pecinta alam di Indonesia yang bernama Soe Hok Gie yang terkenal karena tulisan-tulisannya, salah satu tulisannya yang pernah di muat di harian kompas adalah sebagai berikut :

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa
yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Kutipan diatas saya tau telah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul ketika seseorang pendaki di tanya tentang alasan mereka naik gunung. Seluruh peserta pendakian bersama baik warga Pandu Alam Lingkungan maupun simpatisan jika di tanya tentang hal yang sama tentunya mereka memberikan jawaban yang tidak jauh berbeda. Mungkin itulah alasan, kami mendaki di Gunung Buntu Karua, di Desa Balla’, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja.
Seolah waktu yang tak pernah terlupakan bagi warga Pandu Alam Lingkungan serta seluruh peserta yang ikut. di dalam pendakian bersama Gunung Buntu Karua yang memiliki ketinggian 2776 mdpl. Waktu itu hari kamis, 07 April tahun 2011. Angin malam yang berhembus begitu dingin sampai menusuk tulang sekitar pukul 20.00 Wita, seluruh peserta pendakian bersama berkumpul di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar. Mereka berkumpul bersama menuggu kedatangan bus Toraja Ria yang akan mengangkut ke lokasi kegiatan.

Gunung Buntu Karua ini merupakan salah satu gunung yang ada di Tana Toraja, yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai objek wisata, itu dapat dilihat dari panorama alamnya yang indah yang bisa menarik perhatian para wisatawan untuk berkunjung di tempat ini, selain itu, menurut imformasi di Gunung Buntu Karua juga terdapat sumber belerang ini juga bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk berkunjung di tempat ini. Kemudian terdapat juga permandian air panas yang bisa kita nikmati sebelum atau setelah kita kembali dari Gunung Buntu Karua.

Perjalanan menuju Tana Toraja bukanlah perjalanan yang dekat, Berangkat dari Makassar melewati beberapa kabupaten dan kota setelah menempuh perjalanan sekitar Sembilan jam barulah kami tiba di kota Makale. Dari kota Makale kita menuju ke desa terakhir. Ditempuh sekitar dua jam perjalanan menggunakan Bus. Kami tiba di desa terakhir pada jum’at pagi 8 April 2011, kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa terakhir dengan berjalan kaki.
Sekitar pukul 08.00 Wita, kami tracking menuju desa terakhir sambil membawa bibit yang telah kami diambil di kota Makale, bibit ini, akan di bagikan kepada penduduk di desa terakhir. Setelah tracking sekitar dua jam, maka kami tiba di kaki gunung desa terakhir.

Dikaki gunung kami tinggal disalah satu rumah penduduk setempat yang bernama pak Bagenda. sekitar pukul 10.00 Wita kami sampai di rumah ini. Kedatangan kami di rumah pak Bagenda diterima dengan baik. Ini merupakan kesyukuran yang luar biasa. Dirumah pak Bagenda inilah kami melakukan persiapan kegiatan. Salah satu kegiatannya adalah pembagian bibit kepada masyarakat setempat. Dalam pembagian bibit berupa bibit pohon jati dan pohon mahoni masyarakat di sana merespon dengan baik ini ditandai dengan antusias masyarakat saat pembagian bibit berlansung.
Pada tanggal 9 April 2011, sekitar pukul 09.00 Wita, seluruh peserta pendakian bersama meninggalkan rumah pak Bagenda di didesa terakhir kemudian tracking menuju Gunung Buntu Karua.

Gunung Buntu Karua yang diyakini oleh masyarakat setempat memiliki delapan puncak yang sesuai dengan namanya ini Untuk sampai di puncak yang sesungguhnya kita harus melewati tujuh puncak terlebih dahulu. Sebelum pendakian Gunung Buntu Karua, kami telah membagi tugas untuk mendapatkan imformasi data penting mengenai keadaan jalur pendakian, seperti keadaan vegetasi yang datanya di ambil oleh Siang Hati bersama Dwi Indah Puspita , titik kordinat serta ketinggian tempat setiap pos oleh Fadly Suhati dan kronologis kegiatan serta waktu tempuh dari setiap pos menuju pos selanjutnya dicatat oleh Zulfikar Taufik.
Setelah pembagian tugas selesai, saya dan seluruh peserta memulai perjalanan ke Gunung Buntu Karua. Itu terasa sangat mendebarkan bagi saya, mungkin, karena ini adalah pengalaman pertama saya tetapi rasa itu seolah hilang ketika sampai di pos I. Pos yang jaraknya lumayan jauh ini kita tempuh dalam waktu sekitar satu jam dari kaki gunung di desa terakhir. Pos 1 memberikan pesona alam yang sangat indah di tambah pemandangan rumah tongkonan di sekitar kota bittuang yang bisa kita nikmati di tempat ini . Kami tahu ini baru perjalanan awal dan kami tahu pemandangan di pos selanjutnya pasti memberikan warna yang berbeda dan tidak kalah menarik. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya.
Setelah melewati hutan alam yang rimbun yang seolah tersenyum melihat kedatangan kami. Kemudian kami melewati juga hutan bambu yang bergerombol dan seolah tenang karena tidak ada gangguan manusia yang tampak padanya. Ini juga salah satu puncak, tentunya perjalanan selanjutnya kami harus tracking menuruni lembah dengan kemiringan yang terjal. Wow sungguh butuh perjuangan yang keras serta kehati-hatian yang tinggi karena kapan tergelincir hidup adalah taruhannya.

Akhirnya kami tiba di Pos 3 sekitar pukul 12.30 Wita. Di pos 3 ini merupakan salah satu pos kehidupan. Mengapa saya menyebutnya pos kehidupan karena setelah kita melewati dua pos sebelumnya baru di pos ini ada sumber air. Pos ini juga merupakan pos yang unit di bandingkan dengan pos yang lainnya karena diapit oleh dua puncak. Setelah istrahat dirasa cukup kami tracking menuju pos selanjutnya .
Menanjak dan penuh lumut itulah jalur menuju pos 4, Kerjasama di sini sangat dibutuhkan. Disini juga kami belajar betapa pentingnya sebuah kebersamaan dalam perjalanan hidup. Jika dari pos 2 menuju pos 3 kami melewati lembah, maka disini sebaliknya kami harus menanjak. Tentunya, ini bukanlah hal yang harus kita hindari tetapi kita harus mampu melewatinya dengan penuh semangat, tidak ada kata menyerah sebelum puncak dicapai.

Tanjakan yang begitu terjal tak mampu menghalangi perjalanan kami untuk sampai di pos 4. Sekitar pukul 13.45 kami tiba di pos 4 yang di kelilingi hutan alam dengan ciri khas pohon yang berlumut sampai di tajuknya ini tentunya memberikan sensasi yang berbeda. tetapi disini di temukan sebagian besar pohon yang tumbuh di penuhi dengan lumut. Ini juga membuktikan betapa dinginnya tempat ini jika di bangdingkan dengan dinginnya di kota. Setelah menikmati pemandangan di pos 4, tracking di lanjutkan ke pos selanjutnya.

Tenaga mulai terkuras habis tetapi semangat kami tak pernah padam. Sekitar pukul 15.00 Wita, akhirnya kami tiba di pos 5. Untuk menggambarkan pos 5 kita harus menoleh kembali ke pos sebelumya, keadaanya tidak jauh berbeda yaitu dengan ciri khas hutan alam, dengan pepohonan yang berlumut sampai di tajuk. Yang sedikit membedakan, itu hanya keadaan jalur yang agak landai menuju pos ini. Rasanya sudah tidak sabar untuk sampai di lokasi camp, tracking dilanjutkan menuju pos selanjutnya yang juga merupakan pos terakhir yang kita lewati untuk hari ini.
Perjalanan menuju pos 6 jalurnya agak landai. Sekitar pukul 16.00 Wita kami tiba di pos 6 yang merupakan lokasi camp. Sejenak istrahat untuk mengobati kelelahan yang seharian penuh melakukan perjalanan yang panjang. Setelah istrahat terasa sudah mengobati lelah yang kami rasakan, dilanjutkan dengan pembangunan camp dan persiapan kegiatan untuk malam harinya.
Dalam pemilihan lokasi camp, kami tidak asal memilih, kami punya pertimbangan khusus diantaranya harus ada sumber air, tempatnya harus datar, dan kami harus aman dan merasa nyaman di tempat itu. Kami, melihat di pos 6, memiliki criteria itu, dimana terapat sungai yang sudah mongering, meskipun begitu, masih ada genangan-genangan air yang bisa di mamfaatkan sebagai sumber air, tempatnya juga agak datar, dan di bangdingkan dengan pos yang lainnya tentunya di sinilah tempat yang paling aman dan nyaman. Maka dari itu, kami pun sepakat menghabiskan malam di tempat ini.
Sore berganti menjadi malam dan malam berganti menjadi pagi yang di tandai terbitnya mentari di ufuk timur. Kami bersiap melanjutkan perjalanan. Tak terasa berguliranya waktu hari ini kita telah tiba di hari Minggu bertepatan tanggal 10 April 2011. Minggu pagi yang cerah dan perasaan hati yang ceria karena hari ini kita lanjutkan kembali perjalanan dan semua peserta masih dalam kondisi sehat dan penuh semangat tentunya.

Kami meninggalkan camp dan tracking menuju pos 7 sekitar pukul 09.00 Wita. Dalam tracking menuju pos ini dilewati hutan alam, semak berduri, serta memiliki jalur yang agak datar. Perjalanan di tempuh sekitar satu jam. Sekitar pukul 10.00 Wita, kami sampai di pos 7, pos yang memberikan strawbery hutan, dan juga terdapat sumber air. Kami istrahat sejenak ditempat ini untuk melepas rasa lelah sambil menikmati pemandangan yang indah. Setelah istrahat di rasa cukup lanjut tracking menuju puncak gunung buntu karua.

Kini tiba saatnya, waktu yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh peserta. Salah satu tujuan utama yaitu mencapai puncak Gunung Buntu Karua dimana saat-saat itu sudah bisa dikatakan ada di depan mata. Setelah menempuh perjalanan dalam waktu sekitar satu jamdari pos 7 atau tepatnya pukul 11.00 Wita, akhirnya sampai di puncak Gunung Buntu Karua yang memiliki ketinggian 2776 mdpl. Dengan tiba di puncak Gunung Buntu Karua maka tentunya perasaan senang telah di rasakan oleh semua peserta. Kami berada Di puncak gunung buntu karua sekitar satu setengah jam. Tentunya tidak ada yang ingin melewatkan momen ini begitu saja. Maka, hal yang wajib dilakukan adalah mengabadikan momen yang sangat langka ini. Salah satu cara mengabadikannya adalah berfoto-foto sambil menikmati keindahan dan pesona puncak Gunung Buntu Karua.

Setelah sampai di puncak Gunung Buntu Karua terdapat triangulasi yang menurut imformasi penduduk setempat di buat pada zaman penjajahan Belanda, triangulasi ini tertutup oleh vegetasi hutan alam yang rapat, di dekat triangulasi juga terdapat penanda untuk menuju sumber air, tetapi setelah di cek, sumber airnya sedang mengering. Lokasi triangulasi berada di tempat yang agak datar, disekitar triangulasi juga beberapa tanda yang di buat oleh pendaki sebelum kami.
Sekitar pukul 12.30 Wita, setelah seluruh peserta telah menikmati keindahan pemandangan dan pesona di puncak gunung buntu karua. kami harus kembali lagi menuju pos sebelumnya yaitu pos 7. Setelah tiba di pos 7 sekitar pukul 13.30 Wita, kami istrahat untuk mengambil air minum, setelah itu tracking menuju pos 6 yang merupakan lokasi tempat camp.

Sekitar pukul 14.30 Wita, kami tiba di lokasi tempat camp. Karena merasa lelah, semua peserta istrahat. Di lokasi tempat camp ini kami akan menghabiskan malam sebelum di desa terakhir. Tentunya banyak hal yang harus di persiapkan, seperti komsumsi dan penerangan di malam hari. Seluruh panitia, tentunya dengan kerjasama tim mempersiapkan seluruh kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Pada hari kamis, tanggal 11 April 2011. dilakukanlah pembersihan camp selanjutnya packing barang dan perlengkapan. Sekitar pukul 08.45 Wita, kami tracking menuju pos 5. Sekitar pukul 09.15 wita, kami tiba di pos 5 tanpa istrahat dilanjutkan tracking menuju pos 4. Sekitar pukul 10.00 Wita tiba di pos 4, kemudian istrahat, selanjutnya tracking lagi menuju pos 3. Sekitar pukul 10.45 Wita tiba di pos 3, di sini pemandangan cukup indah sayang jika di lewatkan begitu saja sehingga dilakukan foto bersama. Setelah itu, tracking dilanjutkan lagi menuju pos 2 , Sekitar pukul 11.25 Wita, kami tiba di pos 2, kemudian istrahat. Selanjutnya tracking menuju pos 1. Sekitar pukul 12.30 Wita, kami tiba di pos 1. Karena pos 1 menarik dan letaknya yang strategis di puncak bukit, pemandangan yang diberikan sangat indah. Sebelum meninggalkan pos 1, kami melakukan pengabadian tempat dan yang terpenting membersihkannya. Setelah itu, tracking menuju desa terakhir.

Selama tracking menuju desa terakhir tentunya perasaan telah bercampur aduk. Selain karena senang karena telah kembali dari pendakian bersama di puncak gunung buntu karua. Pastinya ada juga rasa sedih karena harus meninggalkan keindahan Gunung Buntu Karua. Kami tentunya tidak mengetahui kapan lagi kita bisa datang di Gunung Buntu Karua ini dengan sejuta pesona keindahan alamnya yang sungguh menajubkan.
Sampai di desa terakhir, tepatnya di rumah Pak Bagenda sekitar pukul 14.00 Wita. Tentunya perasaan bertambah senang karena kami kembali dengan keadaan selamat dengan membawa banyak pengalaman, pengetahuan yang akan menginspirasi di dalam hidup kita untuk menjadi manusia yang lebih bersahabat dengan alam.

Setelah menghabiskan waktu selama satu hari di desa terakhir. Pada hari selasa, sekitar pukul 09.00 Wita, kami meninggalkan rumah Pak Bagenda Sebelum meninggalkan rumah Pak Bagenda kami pamitan. Kami juga pamitan dengan penduduk setempat. Tentunya rasa terima kasih kami ucapkan karena telah menerima kami di desa mereka, terutama Pak Bagenda yang rumahnya di jadikan sebagai tempat istrahat. Semoga kedatangan kami, memberikan kesan yang baik terhadap mereka.
Waktu untuk tracking dari desa terakhir menuju kota Bittuang ditempuh sekitar dua jam perjalanan, sehingga kita sampai di kota Bittuang sekitar pukul 11.00 Wita, Sesampainya di kota Bittuang, bus Toraja Ria telah datang lebih awal dan perjalanan menuju kota Makale pun dilanjutkan. Didalam perjalanan menuju kota Makale kita bisa menikmati panorama alam yang indah, serta keunikan rumah tongkonan yang menjadi ciri khas daerah ini.

Sekitar Pukul 13.00 Wita, tiba di kota Makele, selanjutnya menuju kantor Dinas Perkebunan dan Kehutanan yang letaknya kota Makele. Di sini di lakukan pengambilan bibit Angsana berjumlah 130 bibit pohon. Kemudian, menuju rumah Kak Lydia salah satu dari peserta pendakian bersama Gunung Buntu Karua yang juga berasal dari Tana Toraja yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari lokasi penanaman dan kantor tempat pengambilan bibit. Sekitar pukul 13.30 Wita, tiba di rumah Kak Lydia. Dirumah inilah, kami istrahat.

Pada pukul 15.30 Wita, dilakukanlah penanaman bibit di sepanjang jalan di sekitar kantor daerah Kabupaten Tana Toraja. Penanaman bibit ini selain diikuti oleh peserta, juga mendapat antusias dari masyarakat setempat, juga dari KPA dan SISPALA SMA yang ada di kota Makale. Selain itu. Ada juga, pegawai dari dinas Perkebunan dan Kehutanan kota Makale. Ini juga, merupakan bukti bahwa instansi dan masyrakat setempat merespon baik kegiatan penanaman ini.

Sekitar Pukul 17.00 Wita, kegiatan penanaman telah selesai. Selanjutnya, kami kembali kerumah Kak Lydia untuk persiapan pulang menuju kota Makasaar. Sekitar pukul 20.00 Wita, dilanjutkanlah perjalanan kembali menuju kota Makassar. Akhirnya, kami tiba di kota Makasar Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin pada hari rabu, tanggal 13 April 2011.

Pendakian bersama Gunung Buntu Karua merupakan pengalaman pertama buat saya. Kegiatan ini selain menambah wawasan juga memberikan pembelajaran hidup tentang arti sebuah kehidupan yaitu kita hidup bersama orang lain maka kita harus saling memberikan kebaikan, kita hidup bersama alam maka kita harus menjaganya dan kita hidup karena anugerah tuhan maka dari itu kita harus selalu dekat padanya.


Jaya di hutan
Jaya di gunung
Jaya akademika

SULFIKAR PAL GM 17

Jumat, 29 April 2011

DASAR DASAR NAVIGASI

Navigasi adalah pengetahuan untuk mengetahui keadaan medan yang akan dihadapi, posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan di alam bebas.
Pengetahuan tentang navigasi darat ini meliputi


·         Pembacaan peta

·         Penggunaan kompas

·         Penggunaan tanda-tanda alam yang membantu kita dalam menentukan arah
Pengetahuan tentang navigasi darat ini merupakan bekal yang sangat penting bagi kita untuk bergaul dengan alam bebas dari padang ilalang, gunung hingga rimba belantara. Untuk itu memerlukan alat-alat seperti


·         Peta topografi

·         Penggaris

·         Kompas

·         Protraktor

·         Busur derajat.

·         Altimeter

·         Pensil
PETA TOPOGRAFI
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi yang diperkecil dengan skala tertentu sesuai dengan kebutuhan. Peta digambarkan di atas bidang datar dengan sistem proyeksi tertentu. Peta yang digunakan untuk kegiatan alam bebas adalah Pete Topografi.
Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas dare diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis-Garis Kontur.


Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan petanya, yaitu:
1. Judul Peta
Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol.
2. Keterangan Pembuatan
Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta.
3. Nomor Peta (Indeks Peta)
Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.
4. Pembagian Lembar Peta
Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas.
5. Sistem Koordinat
Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:
a. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120° 32' 12" BT 5° 17' 14" LS.
b. Koordinat Grid
Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan.
c. Koordinat Lokal
Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta.
Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.
Misal: 72100 mE dibaca 21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain-lain.

6. Skala Peta
Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan
JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN
Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).
Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.


7. Orientasi Arah Utara
Pada peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis.
Tiga arah utara tersebut adalah:
·         Utara Sebenarnya (True North/US/TN) diberi simbol * (bintang), yaitu utara yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi.
·         Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi simbol GN, yaitu Utara yang sejajar dengan garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta.
·         Utara Magnetis (Magnetic North/UM) diberi simbol T (anak pariah separuh), yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara magnetis selalu mengalami perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke Timur) dikarenakan oleh pengaruh rotasi bumi. Hanya ada di medan.
Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan sudut, antara lain:
·         Penyimpangan sudut antara US - UP balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Peta (IP) atau Konvergensi Merimion. Yang menjadi patokan adalah Utara Sebenarnya (US).
·         Penyimpangan sudut antara US - UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yanmg menjadi patokan adalah l Utara sebenarnya ((IS).
·         Penyirnpangan sudut antara UP - UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Utara Peta-Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah Utara Pela f71').
Dengan diagram sudut digambarkan
US UP UM

TRUE NORTH MAGNETIS NORTH



8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian
Garis kontur adalah gambaran bentuk permukaan bumi pada peta topografi.
Sifat-sifat garis kontur, yaitu'.
1.      Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu sama lain dan tidak akan bercabang.
2.      Garis kontur yang di dalam selalu lebih tinggi dari yang di luar.
3.      Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama
4.      Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal.
5.      Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir atau sama dengan 90°.
6.      Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lain. Pelana yang terdapat diantara dua gunung besar dinamakan PASS.

9. Titik Triangulasi
Selain dari garis-garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik Triangulasi adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Macam-macam titik triangulasi
·         Titik Primer, I'. 14 , titik ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl. 3120
·         Titik Sekunder, S.45 , titik ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl. 2340
·         Titik Tersier, 7: 15 , titik ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl 975
·         Titik Kuarter, Q.20 , titik ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl. 875
·         Titik Antara, TP.23 , titik ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670
·         Titik Kedaster, K.131 , titik ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202
·         Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212, titik ketinggian Kedaster Kuarter, No. 1212, tinggi 1993 mdpl. 1993
10. Legenda Peta
Adalah informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa unsur yang dibuat oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting
untuk dipahami antara lain:
a. Titik ketinggian
b. Jalan setapak
c. Garis batas wilayah
d. Jalan raya
e. Pemukiman
f. Air
g. Kuburan
h. Dan Lain-Lain

MEMAHAMI PETA TOPOGRAFI

A. MEMBACA GARIS KONTUR
1. Punggungan Gunung
Punggungan gunung merupakan rangkaian garis kontur berbentuk huruf U, dimana Ujung dari huruf U menunjukkan ternpat atau daerah yang lebih pendek dari kontur di atasnya.
2. Lembah atau Sungai
Lembah atau sungai merupakan rangkaian garis kontur yang berbentuk n (huruf V terbalik) dengan Ujung yang tajam.
3. Daerah landai datar dan terjal curam
Daerah datar/landai garis kontumya jarang jarang, sedangkan daerah terjal/curam garis konturnya rapat.

B. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR
Pada peta skala 1 : 50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408-244/JICA TOKYO-1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang baku, namun dapat dicari dengan:
1.      Carl dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misal titik A dan B.
2.      Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B).
3.      Hitung jumlah kontur antara A dan B.
4.      Bagilah selisih ketinggian antara A - B dengan jumlah kontur antara A - B, hasilnya adalah Interval Kontur.

C. UTARA PETA
Setiap kali menghadapi peta topografi, pertama-tama carilah arah utara peta tersebut. Selanjutnya lihat Judul Peta (judul peta selalu berada pada bagian utara, bagian atas dari peta). Atau lihat tulisan nama gunung atau desa di kolom peta, utara peta adalah bagian atas dari tulisan tersebut.


D. MENGENAL TANDA MEDAN
Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan
orientasi harus juga digunakan bentuk-bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:
1. Lembah antara dua puncak
2. Lembah yang curam
3. Persimpangan jalan atau Ujung desa
4. Perpotongan sungai dengan jalan setapak
5. Percabangan dan kelokan sungai, air terjun, dan lain-lain.
Untuk daerah yang datar dapat digunakan-.
1. Persimpangan jalan
2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain-lain.

E. MENGGUNAKAN PETA
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah
tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelurn berjalan catatlah:
1.      Koordinat titik awal (A)
2.      Koordinat titik tujuan (B)
3.      Sudut peta antara A - B
4.      Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A - B
5.      Berapa panjang lintasan antara A - B dan berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A -B.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah
1.      Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.
2.      Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan di peta.
3.      Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.
4.      Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.
5.      Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.
6.      Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lain-lainnya.
7.      Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.

F. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA
Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tandatanda tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Bum berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
1.      Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimuali dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
2.      Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A - T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0" -360°) searah putaran jarum Jain. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.
3.      Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T. Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis kontur.
Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh :
+ Kemiringan lereng + Panjang lintasan
+ Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun pasir).
+ Keadaan cuaca rata-rata.
+ Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).
+ Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.

G. MEMBACA KOORDINAT
Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:
1. Cara Koordinat Peta
Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan. Penunjukkan koordinat ini menggunakan
·         Sistem Enam Angka Misal, koordinat titik A (374;622), titik B (377;461)
·         Cara Delapan Angka    Misal, koordinat titik A (3740;6225), titik B (3376;4614)
2. Cara Koordinat Geografis
Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 4$' 27,79". Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat kota Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.

H. SUDUT PETA
Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam.
Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem Azimuth (0° - 360°).
Sistem Azimuth adalah sistem yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung atau diukur sesuai dengan arah jalannya jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan.

Sistem penghitungan sudut dibagi menjadi dua, berdasar sudut kompasnya
AZIMUTH : SUDUT KOMPAS
BACK AZIMUTH : Bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°. Bila sudut kompas < 1800 maka sudut kompas ditambah 180°.

I. TEKNIK MEMBACA PETA
Prinsipnya . " Menentukan posisi dari arah perjalanan dengan membaca peta dan menggunakan teknik orientasi dan resection, bila keadaan memungkinkan " Titik Awal : Kita harus tahu titik keberangkatan kita, balk itu di peta maupun di lapangan. Plot titik tersebut di peta dan catat koordinatnya.
Tanda Medan : Gunakan tanda medan yang jelas (punggungan yang menerus, aliran sungai, tebing, dll) sebagai guide line atau pedoman arah perjalanan. Kenali tanda medan tersebut dengan menginterpretasikan peta.
Arah Kompas : Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita. Apakah sesuai dengan arah punggungan atau sungai yang kita susuri.
Taksir Jarak : Dalam berjalan, usahakan selalu menaksir jarak dan selalu memperhatikan arah perjalanan. Kita dapat melihat kearah belakang dan melihat jumalah waktu yang kita pergunakan. Jarak dihitung dengan skala peta sehingga kita memperoleh perkiraan jarak di peta. Perlu diingat, bahwa taksiran kita itu tidak pasti.
+10' X 10' untuk peta 1 : 50.000
+ 20' X 20' untuk peta 1 : 100.000
Untuk peta ukuran 20' X 20' disebut juga LBD, sehingga pada 20' pada garis sepanjang khatulistiwa (40.068 km) merupakan paralel terpanjang.
40.068 km: (360° : 20') = 40.068 km: (360° : 1/3) = 40.068 km: (360° X 3) 40.068 km : 1080 = 37,1 km
Jadi 20' pada garis sepanjang khatulistiwa adalah 37,1 km. Jarak 37,1 km kalau digambarkan dalam peta skala 1 : 50.000 akan mempunyai jarak : 37,1 km = 3.710.000 cm. Sehingga dipeta : 3.710.000: 50.000 = 74,2 cm.
Akibatnya I LBD peta 20' x 20' skala 1 : 50.000 di sepanjang khatulistiwa berukuran 74,2 X 74,2 cm. Hal ini tidak praktis dalam pemakaiannya.
3. Lembar Peta
Dikarenakan LBD tidak praktis pemakaiannya, karena terlalu lebar. Maka tiap LBD dibagi menjadi 4 bagian dengan ukuran masing-masing 10' X 10' atau 37,1 X 37,1 cm. Tiap-tiap bagian itu disebut Lembar Peta atau Sheet, dan diberi huruf A, B, C, D. Jika skala peta tersebut 1 : 50.000, maka peta itu mempunyai ukuran 50.000 X 37,1 = 1.855.000 cm = 18,55 km (1ihat gambar).
4. Penomoran Lembar Peta
·         Meridian (garis bujur) yang melalui Jakarta adalah 106° 48' 27,79" BT, dipakai sebagai meridian pokok untuk penornoran peta topografi di Indonesia. Jakarta sebagai grs bujur 0
·         Panjang dari Barat ke Timur = 46° 20', tetapi daerah yang dipetakan adalah mulai dari 12" sebelah barat meridian Jakarta. Daerah yang tidak dipetakan adalah : 106° 48' 27,79" BT - (12° + 46° 20' BT) = 8' 27,79", daerah ini merupakan taut sehingga tidak penting untuk pemetaan darat. Tetapi penomorannya tetap dibuat
Keterangan


1.      Daerah pada petak A dituliskan sheet 1/I-A dan titik paling Utara dan paling Barat ada di Pulau Weh.
2.      Cara pemberian nomor adalah dari Barat ke Timur dengn angka Arab (1, 2, 3, , 139). Dari Utara ke Selatan dengan angka Romawi (I, II,III LI).
3.      LBD selau mempunyai angka Arab dan Romawi. Contoh : LP No. 47[XLI atau SHEET No. 47/XLI.
4.      Lembar peta selalu diben huruf, dan huruf itu terpisah dari nomor LBDnya dengan gar's mendatar. Contoh: LP No. 47/XLI - B.
·         Pada uraian diatas disebutkan bahwa garis bujur 0° Jakarta selalu membagi dua buah LBD. Maka untuk lembar peta lainnya selalu dapta dihitung berapa derajat atau menit letak lembar peta itu dan' bujur 0° Jakarta
Contoh: Lernbar Peta No. 39/XL - A terletak diantara garis 7" dan 70 10' LS serta 0° 40' dan 0° 50' Timur Jakarta. Kita harus selalu menyebutkan Lembar Peta tersebut terletak di Barat atau Timur dan' Jakarta.
·         Pada Lembar Peta skala 1 : 50.000, LBD-nya dibagi menjadi 4 bagian. Tetapi untuk peta skala 1 : 25.000, 1 LBD-nya dibagi menjadi 16 bagian dan diberi huruf a sampai q dengan menghilangkan huruf  J
·         Mencari batas Timur dan Selatan suatu.Sheet atau Lembar Peta.
Contoh
1.      Batas Timur dari bujur 0" Jakarta adalah 47/3 X I = 15" 40' Timur Jakarta atau 15° 40' - 12° = 3° 40' BT Jakarta (batas paling Timur Sheet B).
2.      Batas Selatan dan 0° Khatulistiwa adalah 47/3 : 1 = 13" 40' atau 13° 40' 6" = 7° 40' LS. Karena terlatak pada Lembar Peta B dalam 1 LBD, maka dikurangi 10'. Sehingga didapat : 7° 40' - 10' = 7" 30' LS
·         Mencari nomor Lembar Peta atau Sheet. Batas Timur Jakarta = 15" 40', sedang batas Selatan adalah 7" 30' LS. + Jumlah LBD ke Timur = 15° 40' X 3 X 1 LBD = 47 LBD + Jumlah LBD ke Selatan 13" 40' X 3 x 1 LBD = 41 LBD (XLI)
·         Mencari suatu Posisi/Lokasi Contoh : sebuah pesawat terbang jatuh pada koordinat.- 110° 28' BT dan 7° 30' LS. Cari nomor Lembar Petanya Caranya adalah:
1.      110° 28' - 94" 40' = 15" 48' 15° 48' X 3 = 47t' 24' (batas paling Timur)
2.      60 + 7" 30' = 13" 30' 130 30' X 3 = 40° 30' (batas paling Selatan)
·         Perhitungan di Koordinat Geografis
CARA I
Luas dari I Sheet peta adalah 10' X 10', seluas 18,55 km X 18,55 km pada peta 1 - 50.000. Sehingga di dapat (10 X 60 - 18,5 5) - 20 = 1,617,
dibulatken menjadi 1,62 (sebagai konstanta). Misal peta yang digunakan peta Sheet No. 47/XLI -B
Triangulasi T. 932 terletak pada : 46 mm dari Timur dan 16 mm dari Selatan.1915
Posisi Sheet 47/XLI - B
1060 48` 27,79" + 30 40' = 110° 28' 27,79"
Dari Timur: 46 mm X 1,62 = 1' l4°52"
1100 28' 27,79" BT - 1' 14,52" = 110° 27' 13,27" BT
(dikurangi karena semakin mendekati ke titik Jakarta).
Dari selatan : 16 mm X 1,62 = 25,92"
7° 30' LS - 25,92" = 7f' 29' 34,08" LS (dikurangi karena semakin mendekati equator).
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat: 110° 27' 13,27" BT dan 7° 29' 34,08" LS. 1915
Untuk penggunaan peta 1 : 25.000, cara penghitungannya sama, hanya konstantanya diubah menjadi 0,81, yang didapat dari :
{(5 X 60) : 18,55 1 : 20 = 0,808, dibulatkan menjadi 0,81
Luas dari 1 Sheet peta skala 1 : 25.000 adalah 5' X 5'
CARA 2
Dari Timur : 46 mm = (46 : 37,1) X 60 = 1 ' 14,39"
110° 28' 27,79" BT - 1' 14,39" = 11 Of' 27' 13,40" BT
Dari Selatan: 16 mm = (16 :37,1) X 60 = 25,87"
7° 30' LS - 25,87" = 7t' 29' 34,13" LS
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat : I I0'' 27' 13,40" BT dan 7° 29' 34,13" LS. 1915
Pada hasil perhitungan Cara I dan Cara II terdapat selisih 0,13" untuk BT dan 0,05" untuk LS. Hal ini tidak jadi masalah karena masih dalam batas toleransi dan koreksi, yaitu kurang dari 1,00".
Untuk penggunaan peta 5' X 5', 10' X 10' dan 20' X 20' tetap menggunakan pembagi 37,1. Sebaliknya, Jika ada laporan dengan koordinat gralicule, maka cara menentukan lokasinya pada peta adalah (Contoh) "Satu unit SRU menempati sebuah lokasi dengan koordinat 110° 27' 13,27" BT dan 7° 29' 34,08" LS, tentukan lokasi SRU tersebut pada peta Sheet No. 47/XLI - B" JAWAB : Posisi peta 47/XLI -B : 110° 28' 27,79" BT sehingga 110° 27, 13,27" BT 1 10 "27' 13,27 1' 14,52" - 74,52"
74,52" : 1,62 = 46 mm dari timur, dan ukurlah dengan penggaris Batas Selatan : 7°30' sehingga didapat 7030' LS -7029' 34.08" = 25.92" 25,92" : 1,62 = 16 mm dari selatan dan ukurlah dengan penggaris Titik perpotongan kedua garis tersebut adalah lokasi dari SRU yang dimaksud, yaitu 46 mm dari sisi timur dan 16 mm dari sisi selatan berada di sekitar Tnangulasi T.932

 



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India